Akhirnya,
aku berdiri dan kemudian jatuh dalam pelukan detik-detik yang sepertinya tidak
akan pernah terulang kembali, karena ide-ide itu memaksaku untuk segera
bergerak ke tanah Sumatera saat itu juga,
“Sudah
packing sana”, kataku ke Rendy."Beneran nih!”, jawabnya.
Tanpa
ada rasa ragu, dia mulai bergerak mencari sesuatu di lemarinya dan memasukkan
barang-barang yang aku juga kurang tahu. Mungkin sikat gigi dan sabun yang
akhirnya ketinggalan juga di rumahnya. Ah, itulah dia, pelupa salah satu
kelemahannya. Sementara aku meluncur ke Saung Subrank untuk mengambil daypack,
tenda, dan alat-alat lainnya. Dan inilah aku, si pelupa juga karena tidak
membawa matras (padahal sengaja biar dibilang sama-sama pelupa). Itulah salah
satu sifat asli manusia
kecuali ketika ditagih hutang, dia pura-pura lupa.
Waktu
yang tidak ditunggu pun datang dengan cepat, karena aku tidak mau berlama-lama
lagi. Takut berubah pikiran dan pura-pura lupa untuk pergi ke pulau Sumatera,
tepatnya ke Lampung bersama Rendy yang terkadang dia juga pura-pura lupa kalau
ditanya sikat gigi dan sabun mandi. Dengan diantar si Cenet menggunakan sepeda
motor barunya (alias baru dicuci setelah seminggu dipakai) ke gang Cimelati,
yaitu tempat berkumpulnya pendaki ilegal Gunung Salak via Cimelati. Angkutan kota
pun sudah ada di depan mata untuk membawaku ke Ciawi, Bogor. Akhirnya kita pun
bergegas naik. Dengan wajah kusut seperti orang yang sedang banyak pikiran, aku
bertanya pada Rendy,
“Masih
sakit perutnya?”, tanyaku.“Enggak, udah hampir sembuh!”, katanya (mudah-mudahan lupa, kalau dia lagi sakit perut).
Jangan
ditanya lagi tentang kemacetan di jalan Ciawi-Sukabumi. Entah apa yang
dimacetkan, aku juga tidak tahu. Terkadang macet karena jalan sedang dalam
perbaikan atau macet karena waktunya bertepatan dengan para pekerja yang baru
pulang kerja. Bisa jadi kemacetan terjadi karena ada yang sedang pacaran diatas
motor sewaan, jalan berduaan sehingga ditonton banyak orang yang akhirnya
menimbulkan kemacetan, ah sialan. Tapi jangan heran, angkutan kota atau angkot
yang kami tumpangi melaju dengan sangat kencang seperti dikejar setan menuju
kota impian ha ha ha.
Dan
hanya butuh waktu 3 jam dari Cicurug ke Ciawi saat itu. Lama perjalanan
dikarenakan adanya perbaikan jalan. Kita masih beruntung karena bis jurusan
Merak masih ada, padahal hari sudah hampir larut. Tanpa banyak pertanyaan
akhirnya kita naik ke dalam bis. Sampai di dalam bis, kita dimintai ongkos oleh
orang yang ngakunya kondektur sebesar Rp 50.000,- per orang. Lumayan sudah
dapat tempat duduk dengan fasilitas bis AC di dalamnya.
“Hidup
di negara yang penuh fitnah ini, membela yang benar tidak cukup hanya disimpan
di dalam hati”, kata-kata bapak yang sedang berpidato di dalam bis kami masih
terngiang di telingaku sampai sekarang. Intinya, apapun yang terjadi dan yang
kita rasakan harus bisa kita terjemahkan ke dalam tindakan positif dan bergerak
ke depan. Salut dengan bapak itu. Dia masih semangat untuk memberikan
petuah-petuah meski penumpang di dalam bis pura-pura tidur. Kalau ada yang
tidur beneran, itu hanya saudaraku ini, Rendy. Sambil terus berpidato, si bapak
memberikan amplop ke setiap penumpang. Wah, baik sekali si bapak ini. Kita
sudah diberi wejangan, nasehat dan juga amplop. Sampai juga amplop tersebut ke
tanganku. Senang sekali rasanya, eh pas aku buka ternyata isinya doa-doa dengan
bahasa Arab. Dibawah tulisan Arab tersebut ada tulisan donasi untuk anak yatim
dan pembuatan yayasan di salah satu kota besar.
Tak
terasa, sampailah bis kami di ujung pulau Jawa bagian barat, Merak. Kapal-kapal
yang bersandar di dermaga serta suara sirine yang begitu nyaring sudah mulai
terdengar. Jika di tempatku, suara sirine kapal tersebut menandakan permainan
kora-kora pasar malam mulai bergerak. Suara sirinenya pun sampai saat ini masih
terdengar sampai ke kamarku yang absurd. Kami mulai melangkahkan kaki menuju
loket penjualan tiket kapal. Banyak calo yang menawarkan bis menuju Sumatera,
tapi sayangnya aku tidak tertarik sama sekali.
“Nama
siapa, mas?”, tanya penjaga loket.Setelah menyebutkan namaku dan Rendy, kami membayar Rp 15.000,- per orang untuk bisa menyeberang ke pelabuhan Bakauheni.
Tampaknya
wajah sang bujang mulai ceria ketika aku menyuruhnya untuk minum kopi. Tapi dia
sepertinya masih takut untuk meminum kopi hitam itu, maklum dia masih berusaha
berdamai dengan perutnya. Selain itu, wc di kapal kurang khusuk kalau dipakai
untuk merenung. Akhirnya aku mencari kawan ngopi di kapal ini. Aku telusuri
dari depan sampai belakang kapal hingga akhirnya aku menemukan lawan buat
ngopi, yaitu dua orang beda jenis kelamin yang lahirnya pasti duluan mereka
daripada aku.
“Dari
mana om?”, tanyaku.“Dari Bandung”, jawab si om.
“Mau menggunung atau baru pulang menggunung?”, tanyaku kembali.
“Baru
check-up, mau pulang ke rumah”, jawabnya.
Ah,
ternyata pertanyaanku meleset hingga akhirnya ada yang mulai angkat bicara
disisi sebelah kiri si om tadi.“Kalian sendiri mau kemana?”
“Mau menyeberang dari Jawa ke Sumatera, Bu”
“Menggunung atau hanya jalan-jalan?”
“Mengantar saudara sekalian jalan-jalan, Bu”
“Diantara kalian, mana yang namanya Irfan dan Rendy?”, tanya Ibu tersebut.
Wuiiihhh sakti. Belum kenalan tapi dia sudah tahu nama kita berdua. Dia bisa membaca hati seseorang atau dia jangan-jangan guru TK aku dulu?. Tapi tidak mungkin, guru TK aku tidak ada yang punya style ala-ala pendaki seperti ini.
“Aku Irfan dan dia Rendy. Kok tahu nama kita sih, Bu?”, tanyaku dengan bergaya ala Tom Cruz*.
“Iya. Tadi sewaktu kalian antri di loket, aku ada dibelakang kalian dan mendengar nama kalian berdua”, jawab Ibu tersebut dengan lugas.
Nah, akhirnya terjawab sudah keheranan kami. Ternyata dia bukan guru TK ku dulu ha ha ha.
Setelah
ngobrol ngalur ngaler ngidul ngulon ngetan ngiri nganan haha hihi dan cangkir
kopi pun mulai surut, ternyata dua orang tersebut yang lahirnya lebih duluan
daripada saya adalah salah satu anggota grup komunitas pendaki juga. Oke. Fine.
Ternyata PEMULA (Pendaki Muka Lama). Makin ngaco lah kita ngobrol hingga tak
terasa pelabuhan Bakauheni sudah dekat dan kapal akhirnya bersandar di pundak
dermaga ujung timur Sumatera. Seperti biasa, ketika menginjakkan kaki ke
daratan, banyak calo yang menawarkan jasa mereka dengan sedikit memaksa. Jadi
jangan heran, ini bukan Inggris atau Eropa. Inilah Indonesia yang merdeka 70
tahun yang lalu. Akhirnya akupun ikut berjalan di belakang Ibu dan Bapak itu
menuju bis ke arah Rajabasa.
Akhirnya,
sampai juga di ketinggian 4.844mdpl Cartenz. Begitu indah pemandangannya. Aku
bisa melihat Taman Nasional Lorentz yang memiliki ekosistem lengkap mulai dari
vegetasi Alpin, Sub-Alpin, Montana, Sub-Montana, dataran rendah, dan lahan
basah. Kami bersuka cita di atas puncak. Ketika turun, temanku terjatuh. Satu persatu
mereka terjatuh dan aku yang terakhir jatuh. Ah sial! Ternyata bis yang aku
tumpangi melewati jalan berlubang sehingga mengagetkan semua penumpang yang
sedang tidur dan bermimpi indah seperti aku.
Aku
melihat ke arah jendela bis. Sudah hampir mendekati terminal. Aku langsung
memberi kabar temanku yang bernama Beno, si pemalas yang kalau bangun pagi
harus ekstra bawel membangunkannya, apalagi kalau sedang terburu-buru.
“Ben,
jemput ya. Sebentar lagi sampai nih”, kataku.“Oke, Bang. Saya mau beli bensin dulu”, ujar Beni.
Lebih dari satu jam tapi si gondrong Beno belum nongol juga. Oke lah. Yang penting dijemput. Setelah menghabiskan beberapa batang rokok, baru dia nongol bersama temannya. Senyum yang menyakitkan sudah terlihat di kejauhan. Entah apa yang dia pikirkan. Mungkin Rendy.
Tanpa
berlama-lama lagi, saya langsung nemplok di atas jok motornya dan wuuuuzzz
berangkatlah kita ke tempat kosnya. Setelah makan siang, tiga gelas kopi
Lampung dari pesisir barat pun tersaji. Rasa dan aroma kopi yang harum, lembut
dengan cita rasa yang ringan khas Lampung dengan mudah bisa kami nikmati.
Sayangnya, saudaraku yang sedang berusaha berdamai dengan perut itu enggan
menyeruput kopi spesial ini. Katanya belum berani. Baiklah, mungkin rasa
takutnya itu akan hilang setelah tidur siang.
Malam
pun datang. Ada Zul, temanku dari Sukabumi juga yang saat ini sedang menimba
ilmu di salah satu perguruan tinggi di Lampung. Aku rasa, dia mulai kepanasan
setelah bertahun-tahun kegerahan. Kenapa? Mungkin kalian sudah tahu rasanya
menjadi mahasiswa semester akhir itu sesuatu sekali. Baiklah, kita lupakan
sejenak tentang seminar dan sidang skripsi dihadapan dosen pembimbing. Aku
segera mengajak Zul, Beno, dan juga Rendy ke rumah Bunda Manda dan Om Man untuk
minta kopi sekalian ngobrol-ngobrol gila disana. Kenapa harus gila? Mungkin
menurutku hanya dengan menjadi gila saja aku akan tahu pasti rupaku.
Sampai
juga kami di rumah Bunda Manda dan Om Man. Kami berempat disambut hangat oleh
beliau dan Argo, si big boy anak mereka. Ada juga Harry yang mulai menggeluti hobi
membuat gelang dari prusik bahkan tambang nelayan sekaligus. Oh iya, satu lagi
si Bleki, anjing hitam yang terus menggonggongi kami karena memang belum kenal.
Ah, aku jadi ingat si Mudun kalau berbicara soal anjing. Dia pasti ngumpet atau
lari ke toilet rumah tetangga bila ada anjing yang menggonggonginya. Padahal
dia bukan takut, karena biar terlihat keren saja lari-lari tidak karuan. Anjing
itu sebenarnya tidak bermasalah bagi kita melainkan kitalah yang bermasalah
dengan segenap gambaran diri kita sendiri mengenai anjing. Akhirnya kopi pun tersaji. Hanya saja kali ini
rasa kopinya berbeda, tapi tetap kopi Sumatera yang hitam pekat. Obrolan pun
berlangsung sengit, strong, juga macho hingga larut malam.
Setelah
berpamitan, kami berempat langsung meluncur pulang dan mengitari kota Lampung,
tepatnya di Tanjungkarang. Banyak anak-anak muda yang hanya sekedar nongkrong
atau entah apa yang mereka lakukan di pinggir jalan sana. Yang jelas, aku sudah
mengantuk dan butuh istirahat karena besok pagi harus melanjutkan perjalanan ke
Krui, Lampung Barat. Sesampainya di kosan, sudah tidak ada lagi cerita ngalor
ngidul. Yang ada hanya rindu pada sebuah kasur dan bantal yang membawaku ke
dunia mimpi. Aku berharap mimpi kali ini tidak dikejutkan dengan bis yang
melewati lubang di jalan lagi.
Pagi
ini, alarm handphone membangunkanku untuk segera melihat matahari pagi. Bukan
lagi si Ummi yang sengaja mencabut bulu kakiku untuk segera bangun, karena
terlalu lama bermimpi itu tidak baik serta bisa membuat jurang absurditas
semakin dalam. Ada empat orang di kasur ini. Timbulah ide-ide jahil untuk
membangunkan mereka, mulai dari nyanyi-nyanyi sampai membohongi mereka kalau
ada perempuan cantik di depan kosan. Maklum si Beno kalau sudah mendengar kata
perempuan langsung melek matanya hahaha. Pukul sembilan pagi, setelah mandi dan sarapan, kami
di antar Zul dan Reza yang kebetulan sedang terkena alergi gatal-gatal, untuk
mencari bis ke arah Krui, Lampung Barat. Tanpa menunggu terlalu lama di pinggir
jalan, datanglah bis tersebut dan kami segera naik setelah negosiasi ongkos.
Cukup dengan ongkos Rp 60.000,- per orang kami bertiga bisa langsung menuju
Krui, Lampung Barat.
Beruntung
si Beno satu kursi dengan perempuan yang katanya berasal dari Talang Padang.
Setelah mengumpulkan keberanian, baru dia mengulurkan tangannya untuk
berkenalan. Aku melihat wajah Beno, sepertinya dia sangat senang sekali. Ah,
curang kalau hanya dia saja yang bisa kenalan. Akupun harus. Sedangkan Rendy,
entahlah, dia masih belum bisa berdamai dengan perutnya sampai sejauh ini. Dan
sungguh sial, ternyata kita bertiga diturunkan di pinggir jalan untuk
selanjutnya berpindah bis, dan dipaksa harus bayar dua kali lipat, tapi kita
tolak. Ternyata kita salah
naik bis. Seingatku bis yang ke arah Krui cuma ada dua, yaitu Krui Putra dan
satu lagi aku lupa apa nama bisnya hehehe.
Setelah
bis tujuan kita datang, sudah tidak ada negosiasi sana sini, kami langsung naik
meskipun penuh karena memang ini bis yang terakhir. Padahal masih jam 12 siang.
Mungkin karena perjalanan kesana sangat jauh dan memakan banyak waktu. Satu
persatu penumpang pun turun. Dan kami bisa duduk manis di kursi kosong sampai
Krui. Banyak kejadian yang menyenangkan selama di perjalanan. Dari mulai
berkenalan dengan turis Finlandia sampai melihat kecelakaan di lintas Bukit
Barisan. Bagi yang mau ke Krui dengan kendaraan pribadi berhati-hatilah ketika
melintasi jalanan Bukit Barisan ini, karena jalanan yang begitu menanjak dan
berkelok-kelok. Jangan sampai anda mengantuk. Lengah sedikit pasti ‘lewat’.
Sekitar
pukul 17.30 sore, kami tiba
di rumah Beno. Kami disambut kedua orangtuanya dengan ramah. Langsung saja kami
disuguhi pindang ikan tuna. Ah, sangat mewah menurutku. Udara disini sangat
sejuk, dan tidak terlalu panas. Lagi-lagi kopi khas Krui menemani obrolan kami
menjadi lebih asyik. Suasana malam disini sangat tenang, meskipun rumah Beni
berada di pinggir jalan tapi tidak ada motor yang lalu lalang dan ugal-ugalan.
Padahal jalanan ini merupakan jalan alternatif menuju Bengkulu. Tapi jangan
berharap mendapatkan sinyal handphone disini. Semakin kamu berharap, semakin
tidak ada signal hahaha.
Pagi
di Krui disambut dengan kicauan burung dan suara sapi tetangga yang minta makan
serta hembusan angin pantai yang membelai daun kelapa sehingga menghasilkan
bunyi seperti perintah untuk segera turun dari ranjang dan bergegas menuju
pantai. Tapi ajakan tersebut aku tolak karena kedua sahabatku belum bangun.
Mereka harus dipaksa bangun dengan cara membuat kopi hitam yang wanginya
kemana-mana dan itupun kalau bisa membangunkan mereka. Ternyata wangi kopi pun
kalah sama teriakan ibunya Beno. Aku hanya tersenyum dan menikmati kopiku
sendiri. Dari jeritannya sih aku dengar seperti menyuruh Beno bergegas mandi
karena kapal menuju pulau berangkat jam sepuluh
pagi.
Dengan
tergesa-gesa, motor pun dipacu sekencang-kencangnya dengan kecepatan 80km/jam
menuju dermaga kapal di pelabuhan Krui. Jaraknya sekitar satu jam dari rumah Beno.
Itulah ilmu kepepet, sampai-sampai nyawapun dipertaruhkan hahaha. Dan benar
saja, sesampainya disana perahu pun sudah berangkat. Dengan terpaksa kami
menunggu perahu berikutnya. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya kita bisa
berlayar menuju pulau. Kurang dari dua
jam, kami sudah bisa menginjakkan kaki di pulau yang menurutku indah dan
bersih. Terumbu karang terlihat jelas dari atas dermaga dan ikan-ikan cantik
yang siap disapa oleh tubuh yang mulai menggosong. Indahnya melampaui semua
tema yang berjejal di dalam kepalaku.
Di
pulau ini, kami mengunjungi salah satu saudara kawanku. Kami akan menginap dan
merepotkan mereka selama dua malam. Sebenarnya dua malam saja tidak cukup untuk
merasakan keindahan disini. Terlepas dari itu semua, Om Sudi, si empunya rumah
bercerita tentang hal-hal mistis di pulau ini. Seingatku ada 3 tempat yang
tidak boleh diganggu; Batu Guri, Batu Intan, dan Sumur Putri. Ah, makin
penasaran saja. Akhirnya keesokan harinya, kami bertiga mengitari pulau. Butuh
tiga jam untuk mengitari pulau ini. Dan konon katanya, ada kapal tongkang yang tersangkut di salah satu batu
mistis tersebut. Ternyata benar! Ada bekas-bekas besi tua yang terhampar. Katanya
dulu sebelum kapal itu tersangkut, nahkoda kapal melihat pulau ini seperti
dermaga besar dan banyak lampu menyala. Sampai akhirnya kapal tersebut
memutuskan untuk bersandar. Ternyata bukan dermaga yang dilihat melainkan hanya
sebuah bongkahan besar batu karang
dan hutan lebat yang mereka lihat.
Terkait
dengan kejadian itu, percaya atau tidak. Yang jelas, dimanapun kita berpijak,
kita harus menghargai adat istiadat dan peraturan di tempat tersebut. Jangan
berbuat seenaknya karena yang ada nanti hanya petaka yang didapat. Karena mata
yang jahat adalah mata yang sekedar melihat. Tidak terasa hari kepulangan pun
tiba. Pagi-pagi buta di hari Selasa kita berangkat dari pulau menuju pelabuhan
Krui setelah tiga hari dimanjakan oleh suasana, keindahan pulau, dan keramah tamahan masyarakat
sekitar. Aku sengaja tidak bercerita tentang kecantikan dan keindahan pulau ini. Yang
jelas dari 17.500 pulau di Indonesia yang cantik dan indah, yaitu disini, di
Sumatera. Mari kita jaga dari sampah dan hal-hal yang bisa merusak ekosistem
dan keindahan.
Setelah
semalaman menginap kembali di rumah Beno, aku dan Rendy melanjutkan
kembali perjalanan menuju Tanjungkarang.
Sedangkan Beno harus bertahan di Krui karena harus belajar menjadi anak yang
berbakti kepada kedua orangtua dan pastinya belajar bangun pagi, katanya ha ha
ha. Butuh waktu enam jam dari Krui menuju Rajabasa. Pukul 14.00, kami tiba di
rajabasa. Keesokan harinya sekitar
pukul 20.00 aku pergi ke rumah Bunda Manda sekalian pamit untuk kembali ke
Sukabumi. Saking keasyikan ngobrol, tak terasa sudah pukul 22.00 dan mungkin
bis ke Bakauheni sudah jarang. Mau gak mau Rendy dan Bunda harus mengantarku ke
pangkalan mobil travel. Baiklah, disini kita dadah-dadahan. Sayonara pun
simpang siur sampai tertusuk cucuk-cucuk yang djancuk ha ha ha.





