Tuesday, August 25, 2015

Lampung dan Sebuah Pulau Kecil

Ini kamarku, terbuat dari kepulan asap rokok dan segelas kopi juga setumpuk ide-ide yang datang secara tiba-tiba. Dan dia, Rendy, saudaraku dengan wajah yang begitu lemas dan berantakan gara-gara seharian sibuk berdamai dengan kloset wc yang absurd, sepertinya di dalam sana hanya dia mahasiswa pencari PKL-an yang menemukan keniscayaan.

Akhirnya, aku berdiri dan kemudian jatuh dalam pelukan detik-detik yang sepertinya tidak akan pernah terulang kembali, karena ide-ide itu memaksaku untuk segera bergerak ke tanah Sumatera saat itu juga,
“Sudah packing sana”, kataku ke Rendy.
"Beneran nih!”, jawabnya.

Tanpa ada rasa ragu, dia mulai bergerak mencari sesuatu di lemarinya dan memasukkan barang-barang yang aku juga kurang tahu. Mungkin sikat gigi dan sabun yang akhirnya ketinggalan juga di rumahnya. Ah, itulah dia, pelupa salah satu kelemahannya. Sementara aku meluncur ke Saung Subrank untuk mengambil daypack, tenda, dan alat-alat lainnya. Dan inilah aku, si pelupa juga karena tidak membawa matras (padahal sengaja biar dibilang sama-sama pelupa). Itulah salah satu sifat asli manusia kecuali ketika ditagih hutang, dia pura-pura lupa.

Waktu yang tidak ditunggu pun datang dengan cepat, karena aku tidak mau berlama-lama lagi. Takut berubah pikiran dan pura-pura lupa untuk pergi ke pulau Sumatera, tepatnya ke Lampung bersama Rendy yang terkadang dia juga pura-pura lupa kalau ditanya sikat gigi dan sabun mandi. Dengan diantar si Cenet menggunakan sepeda motor barunya (alias baru dicuci setelah seminggu dipakai) ke gang Cimelati, yaitu tempat berkumpulnya pendaki ilegal Gunung Salak via Cimelati. Angkutan kota pun sudah ada di depan mata untuk membawaku ke Ciawi, Bogor. Akhirnya kita pun bergegas naik. Dengan wajah kusut seperti orang yang sedang banyak pikiran, aku bertanya pada Rendy,
“Masih sakit perutnya?”, tanyaku.
“Enggak, udah hampir sembuh!”, katanya (mudah-mudahan lupa, kalau dia lagi sakit perut).

Jangan ditanya lagi tentang kemacetan di jalan Ciawi-Sukabumi. Entah apa yang dimacetkan, aku juga tidak tahu. Terkadang macet karena jalan sedang dalam perbaikan atau macet karena waktunya bertepatan dengan para pekerja yang baru pulang kerja. Bisa jadi kemacetan terjadi karena ada yang sedang pacaran diatas motor sewaan, jalan berduaan sehingga ditonton banyak orang yang akhirnya menimbulkan kemacetan, ah sialan. Tapi jangan heran, angkutan kota atau angkot yang kami tumpangi melaju dengan sangat kencang seperti dikejar setan menuju kota impian ha ha ha.

Dan hanya butuh waktu 3 jam dari Cicurug ke Ciawi saat itu. Lama perjalanan dikarenakan adanya perbaikan jalan. Kita masih beruntung karena bis jurusan Merak masih ada, padahal hari sudah hampir larut. Tanpa banyak pertanyaan akhirnya kita naik ke dalam bis. Sampai di dalam bis, kita dimintai ongkos oleh orang yang ngakunya kondektur sebesar Rp 50.000,- per orang. Lumayan sudah dapat tempat duduk dengan fasilitas bis AC di dalamnya.

“Hidup di negara yang penuh fitnah ini, membela yang benar tidak cukup hanya disimpan di dalam hati”, kata-kata bapak yang sedang berpidato di dalam bis kami masih terngiang di telingaku sampai sekarang. Intinya, apapun yang terjadi dan yang kita rasakan harus bisa kita terjemahkan ke dalam tindakan positif dan bergerak ke depan. Salut dengan bapak itu. Dia masih semangat untuk memberikan petuah-petuah meski penumpang di dalam bis pura-pura tidur. Kalau ada yang tidur beneran, itu hanya saudaraku ini, Rendy. Sambil terus berpidato, si bapak memberikan amplop ke setiap penumpang. Wah, baik sekali si bapak ini. Kita sudah diberi wejangan, nasehat dan juga amplop. Sampai juga amplop tersebut ke tanganku. Senang sekali rasanya, eh pas aku buka ternyata isinya doa-doa dengan bahasa Arab. Dibawah tulisan Arab tersebut ada tulisan donasi untuk anak yatim dan pembuatan yayasan di salah satu kota besar.

Tak terasa, sampailah bis kami di ujung pulau Jawa bagian barat, Merak. Kapal-kapal yang bersandar di dermaga serta suara sirine yang begitu nyaring sudah mulai terdengar. Jika di tempatku, suara sirine kapal tersebut menandakan permainan kora-kora pasar malam mulai bergerak. Suara sirinenya pun sampai saat ini masih terdengar sampai ke kamarku yang absurd. Kami mulai melangkahkan kaki menuju loket penjualan tiket kapal. Banyak calo yang menawarkan bis menuju Sumatera, tapi sayangnya aku tidak tertarik sama sekali.
“Nama siapa, mas?”, tanya penjaga loket.
Setelah menyebutkan namaku dan Rendy, kami membayar Rp 15.000,- per orang untuk bisa menyeberang ke pelabuhan Bakauheni.

Tampaknya wajah sang bujang mulai ceria ketika aku menyuruhnya untuk minum kopi. Tapi dia sepertinya masih takut untuk meminum kopi hitam itu, maklum dia masih berusaha berdamai dengan perutnya. Selain itu, wc di kapal kurang khusuk kalau dipakai untuk merenung. Akhirnya aku mencari kawan ngopi di kapal ini. Aku telusuri dari depan sampai belakang kapal hingga akhirnya aku menemukan lawan buat ngopi, yaitu dua orang beda jenis kelamin yang lahirnya pasti duluan mereka daripada aku.
“Dari mana om?”, tanyaku.
“Dari Bandung”, jawab si om.
“Mau menggunung atau baru pulang menggunung?”, tanyaku kembali.
“Baru check-up, mau pulang ke rumah”, jawabnya.
Ah, ternyata pertanyaanku meleset hingga akhirnya ada yang mulai angkat bicara disisi sebelah kiri si om tadi.
“Kalian sendiri mau kemana?”
“Mau menyeberang dari Jawa ke Sumatera, Bu”
“Menggunung atau hanya jalan-jalan?”
“Mengantar saudara sekalian jalan-jalan, Bu”
“Diantara kalian, mana yang namanya Irfan dan Rendy?”, tanya Ibu tersebut.

Wuiiihhh sakti. Belum kenalan tapi dia sudah tahu nama kita berdua. Dia bisa membaca hati seseorang atau dia jangan-jangan guru TK aku dulu?. Tapi tidak mungkin, guru TK aku tidak ada yang punya style ala-ala pendaki seperti ini.
“Aku Irfan dan dia Rendy. Kok tahu nama kita sih, Bu?”, tanyaku dengan bergaya ala Tom Cruz*.
“Iya. Tadi sewaktu kalian antri di loket, aku ada dibelakang kalian dan mendengar nama kalian berdua”, jawab Ibu tersebut dengan lugas.
Nah, akhirnya terjawab sudah keheranan kami. Ternyata dia bukan guru TK ku dulu ha ha ha.

Setelah ngobrol ngalur ngaler ngidul ngulon ngetan ngiri nganan haha hihi dan cangkir kopi pun mulai surut, ternyata dua orang tersebut yang lahirnya lebih duluan daripada saya adalah salah satu anggota grup komunitas pendaki juga. Oke. Fine. Ternyata PEMULA (Pendaki Muka Lama). Makin ngaco lah kita ngobrol hingga tak terasa pelabuhan Bakauheni sudah dekat dan kapal akhirnya bersandar di pundak dermaga ujung timur Sumatera. Seperti biasa, ketika menginjakkan kaki ke daratan, banyak calo yang menawarkan jasa mereka dengan sedikit memaksa. Jadi jangan heran, ini bukan Inggris atau Eropa. Inilah Indonesia yang merdeka 70 tahun yang lalu. Akhirnya akupun ikut berjalan di belakang Ibu dan Bapak itu menuju bis ke arah Rajabasa.

Akhirnya, sampai juga di ketinggian 4.844mdpl Cartenz. Begitu indah pemandangannya. Aku bisa melihat Taman Nasional Lorentz yang memiliki ekosistem lengkap mulai dari vegetasi Alpin, Sub-Alpin, Montana, Sub-Montana, dataran rendah, dan lahan basah. Kami bersuka cita di atas puncak. Ketika turun, temanku terjatuh. Satu persatu mereka terjatuh dan aku yang terakhir jatuh. Ah sial! Ternyata bis yang aku tumpangi melewati jalan berlubang sehingga mengagetkan semua penumpang yang sedang tidur dan bermimpi indah seperti aku.

Aku melihat ke arah jendela bis. Sudah hampir mendekati terminal. Aku langsung memberi kabar temanku yang bernama Beno, si pemalas yang kalau bangun pagi harus ekstra bawel membangunkannya, apalagi kalau sedang terburu-buru.
“Ben, jemput ya. Sebentar lagi sampai nih”, kataku.
“Oke, Bang. Saya mau beli bensin dulu”, ujar Beni.
Lebih dari satu jam tapi si gondrong Beno belum nongol juga. Oke lah. Yang penting dijemput. Setelah menghabiskan beberapa batang rokok, baru dia nongol bersama temannya. Senyum yang menyakitkan sudah terlihat di kejauhan. Entah apa yang dia pikirkan. Mungkin Rendy.

Tanpa berlama-lama lagi, saya langsung nemplok di atas jok motornya dan wuuuuzzz berangkatlah kita ke tempat kosnya. Setelah makan siang, tiga gelas kopi Lampung dari pesisir barat pun tersaji. Rasa dan aroma kopi yang harum, lembut dengan cita rasa yang ringan khas Lampung dengan mudah bisa kami nikmati. Sayangnya, saudaraku yang sedang berusaha berdamai dengan perut itu enggan menyeruput kopi spesial ini. Katanya belum berani. Baiklah, mungkin rasa takutnya itu akan hilang setelah tidur siang.

Malam pun datang. Ada Zul, temanku dari Sukabumi juga yang saat ini sedang menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi di Lampung. Aku rasa, dia mulai kepanasan setelah bertahun-tahun kegerahan. Kenapa? Mungkin kalian sudah tahu rasanya menjadi mahasiswa semester akhir itu sesuatu sekali. Baiklah, kita lupakan sejenak tentang seminar dan sidang skripsi dihadapan dosen pembimbing. Aku segera mengajak Zul, Beno, dan juga Rendy ke rumah Bunda Manda dan Om Man untuk minta kopi sekalian ngobrol-ngobrol gila disana. Kenapa harus gila? Mungkin menurutku hanya dengan menjadi gila saja aku akan tahu pasti rupaku.

 
Sampai juga kami di rumah Bunda Manda dan Om Man. Kami berempat disambut hangat oleh beliau dan Argo, si big boy anak mereka. Ada juga Harry yang mulai menggeluti hobi membuat gelang dari prusik bahkan tambang nelayan sekaligus. Oh iya, satu lagi si Bleki, anjing hitam yang terus menggonggongi kami karena memang belum kenal. Ah, aku jadi ingat si Mudun kalau berbicara soal anjing. Dia pasti ngumpet atau lari ke toilet rumah tetangga bila ada anjing yang menggonggonginya. Padahal dia bukan takut, karena biar terlihat keren saja lari-lari tidak karuan. Anjing itu sebenarnya tidak bermasalah bagi kita melainkan kitalah yang bermasalah dengan segenap gambaran diri kita sendiri mengenai anjing.  Akhirnya kopi pun tersaji. Hanya saja kali ini rasa kopinya berbeda, tapi tetap kopi Sumatera yang hitam pekat. Obrolan pun berlangsung sengit, strong, juga macho hingga larut malam.

Setelah berpamitan, kami berempat langsung meluncur pulang dan mengitari kota Lampung, tepatnya di Tanjungkarang. Banyak anak-anak muda yang hanya sekedar nongkrong atau entah apa yang mereka lakukan di pinggir jalan sana. Yang jelas, aku sudah mengantuk dan butuh istirahat karena besok pagi harus melanjutkan perjalanan ke Krui, Lampung Barat. Sesampainya di kosan, sudah tidak ada lagi cerita ngalor ngidul. Yang ada hanya rindu pada sebuah kasur dan bantal yang membawaku ke dunia mimpi. Aku berharap mimpi kali ini tidak dikejutkan dengan bis yang melewati lubang di jalan lagi.

Pagi ini, alarm handphone membangunkanku untuk segera melihat matahari pagi. Bukan lagi si Ummi yang sengaja mencabut bulu kakiku untuk segera bangun, karena terlalu lama bermimpi itu tidak baik serta bisa membuat jurang absurditas semakin dalam. Ada empat orang di kasur ini. Timbulah ide-ide jahil untuk membangunkan mereka, mulai dari nyanyi-nyanyi sampai membohongi mereka kalau ada perempuan cantik di depan kosan. Maklum si Beno kalau sudah mendengar kata perempuan langsung melek matanya hahaha. Pukul sembilan pagi, setelah mandi dan sarapan, kami di antar Zul dan Reza yang kebetulan sedang terkena alergi gatal-gatal, untuk mencari bis ke arah Krui, Lampung Barat. Tanpa menunggu terlalu lama di pinggir jalan, datanglah bis tersebut dan kami segera naik setelah negosiasi ongkos. Cukup dengan ongkos Rp 60.000,- per orang kami bertiga bisa langsung menuju Krui, Lampung Barat.

Beruntung si Beno satu kursi dengan perempuan yang katanya berasal dari Talang Padang. Setelah mengumpulkan keberanian, baru dia mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Aku melihat wajah Beno, sepertinya dia sangat senang sekali. Ah, curang kalau hanya dia saja yang bisa kenalan. Akupun harus. Sedangkan Rendy, entahlah, dia masih belum bisa berdamai dengan perutnya sampai sejauh ini. Dan sungguh sial, ternyata kita bertiga diturunkan di pinggir jalan untuk selanjutnya berpindah bis, dan dipaksa harus bayar dua kali lipat, tapi kita tolak. Ternyata kita salah naik bis. Seingatku bis yang ke arah Krui cuma ada dua, yaitu Krui Putra dan satu lagi aku lupa apa nama bisnya hehehe.

Setelah bis tujuan kita datang, sudah tidak ada negosiasi sana sini, kami langsung naik meskipun penuh karena memang ini bis yang terakhir. Padahal masih jam 12 siang. Mungkin karena perjalanan kesana sangat jauh dan memakan banyak waktu. Satu persatu penumpang pun turun. Dan kami bisa duduk manis di kursi kosong sampai Krui. Banyak kejadian yang menyenangkan selama di perjalanan. Dari mulai berkenalan dengan turis Finlandia sampai melihat kecelakaan di lintas Bukit Barisan. Bagi yang mau ke Krui dengan kendaraan pribadi berhati-hatilah ketika melintasi jalanan Bukit Barisan ini, karena jalanan yang begitu menanjak dan berkelok-kelok. Jangan sampai anda mengantuk. Lengah sedikit pasti lewat.

Sekitar pukul 17.30 sore, kami tiba di rumah Beno. Kami disambut kedua orangtuanya dengan ramah. Langsung saja kami disuguhi pindang ikan tuna. Ah, sangat mewah menurutku. Udara disini sangat sejuk, dan tidak terlalu panas. Lagi-lagi kopi khas Krui menemani obrolan kami menjadi lebih asyik. Suasana malam disini sangat tenang, meskipun rumah Beni berada di pinggir jalan tapi tidak ada motor yang lalu lalang dan ugal-ugalan. Padahal jalanan ini merupakan jalan alternatif menuju Bengkulu. Tapi jangan berharap mendapatkan sinyal handphone disini. Semakin kamu berharap, semakin tidak ada signal  hahaha.

Pagi di Krui disambut dengan kicauan burung dan suara sapi tetangga yang minta makan serta hembusan angin pantai yang membelai daun kelapa sehingga menghasilkan bunyi seperti perintah untuk segera turun dari ranjang dan bergegas menuju pantai. Tapi ajakan tersebut aku tolak karena kedua sahabatku belum bangun. Mereka harus dipaksa bangun dengan cara membuat kopi hitam yang wanginya kemana-mana dan itupun kalau bisa membangunkan mereka. Ternyata wangi kopi pun kalah sama teriakan ibunya Beno. Aku hanya tersenyum dan menikmati kopiku sendiri. Dari jeritannya sih aku dengar seperti menyuruh Beno bergegas mandi karena kapal menuju pulau berangkat jam sepuluh pagi.

Dengan tergesa-gesa, motor pun dipacu sekencang-kencangnya dengan kecepatan 80km/jam menuju dermaga kapal di pelabuhan Krui. Jaraknya sekitar satu jam dari rumah Beno. Itulah ilmu kepepet, sampai-sampai nyawapun dipertaruhkan hahaha. Dan benar saja, sesampainya disana perahu pun sudah berangkat. Dengan terpaksa kami menunggu perahu berikutnya. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya kita bisa berlayar menuju pulau. Kurang dari dua jam, kami sudah bisa menginjakkan kaki di pulau yang menurutku indah dan bersih. Terumbu karang terlihat jelas dari atas dermaga dan ikan-ikan cantik yang siap disapa oleh tubuh yang mulai menggosong. Indahnya melampaui semua tema yang berjejal di dalam kepalaku.

 
 
 
 
Di pulau ini, kami mengunjungi salah satu saudara kawanku. Kami akan menginap dan merepotkan mereka selama dua malam. Sebenarnya dua malam saja tidak cukup untuk merasakan keindahan disini. Terlepas dari itu semua, Om Sudi, si empunya rumah bercerita tentang hal-hal mistis di pulau ini. Seingatku ada 3 tempat yang tidak boleh diganggu; Batu Guri, Batu Intan, dan Sumur Putri. Ah, makin penasaran saja. Akhirnya keesokan harinya, kami bertiga mengitari pulau. Butuh tiga jam untuk mengitari pulau ini. Dan konon katanya, ada kapal tongkang yang tersangkut di salah satu batu mistis tersebut. Ternyata benar! Ada bekas-bekas besi tua yang terhampar. Katanya dulu sebelum kapal itu tersangkut, nahkoda kapal melihat pulau ini seperti dermaga besar dan banyak lampu menyala. Sampai akhirnya kapal tersebut memutuskan untuk bersandar. Ternyata bukan dermaga yang dilihat melainkan hanya sebuah bongkahan besar batu karang dan hutan lebat yang mereka lihat.

Terkait dengan kejadian itu, percaya atau tidak. Yang jelas, dimanapun kita berpijak, kita harus menghargai adat istiadat dan peraturan di tempat tersebut. Jangan berbuat seenaknya karena yang ada nanti hanya petaka yang didapat. Karena mata yang jahat adalah mata yang sekedar melihat. Tidak terasa hari kepulangan pun tiba. Pagi-pagi buta di hari Selasa kita berangkat dari pulau menuju pelabuhan Krui setelah tiga hari dimanjakan oleh suasana, keindahan pulau, dan keramah tamahan masyarakat sekitar. Aku sengaja tidak bercerita tentang kecantikan dan keindahan pulau ini. Yang jelas dari 17.500 pulau di Indonesia yang cantik dan indah, yaitu disini, di Sumatera. Mari kita jaga dari sampah dan hal-hal yang bisa merusak ekosistem dan keindahan.

Setelah semalaman menginap kembali di rumah Beno, aku dan Rendy melanjutkan kembali  perjalanan menuju Tanjungkarang. Sedangkan Beno harus bertahan di Krui karena harus belajar menjadi anak yang berbakti kepada kedua orangtua dan pastinya belajar bangun pagi, katanya ha ha ha. Butuh waktu enam jam dari Krui menuju Rajabasa. Pukul 14.00, kami tiba di rajabasa. Keesokan harinya sekitar pukul 20.00 aku pergi ke rumah Bunda Manda sekalian pamit untuk kembali ke Sukabumi. Saking keasyikan ngobrol, tak terasa sudah pukul 22.00 dan mungkin bis ke Bakauheni sudah jarang. Mau gak mau Rendy dan Bunda harus mengantarku ke pangkalan mobil travel. Baiklah, disini kita dadah-dadahan. Sayonara pun simpang siur sampai tertusuk cucuk-cucuk yang djancuk ha ha ha.

 
 
 Buat orang keren yang kemarin direpotkan, terima kasih banyak buat si Rendy. Lain kali periksa perut kalau mau jalan-jalan. Buat Beno, potong rambut biar bisa bangun pagi. Zul juga, semoga semangat cari-cari dosen. Keluarga Beno, mbaknya Beno, ajak mainlah nanti, adiknya juga, maaf aku suruh dorong motor karena kehabisan bensin. Om Sudi yang sudah sudi direpotkan orang-orang seperti kita. Teh Atik dan Om Haris yang ngasih durian, uh keren duriannya. Buat Bunda Manda dan Om man, uuuuhhh miss them. Terima kasih banyak buat kalian semua.  
 
 

 

No comments:

Post a Comment