Monday, October 1, 2012

Curang

Oiiii....
Jangan bilang gak denger
Gak mungkinlah kalo gak denger.

Ini apa ini?
Kondisi macam apa ini??
Tontonan apalagi yang bisa diharapkan dariku saat ini?
Iya, saat-saat ini!

Bukannya tak terhitung,
aksiku berakhir mengecewakan?
Masih percaya padaku?
Aku ragu jikalau itu aku

Sudah habis asaku, 
hatiku, dayaku, akalku.
Tetapi masih saja.....
Apa istimewanya aku?

Ingat hari itu?
Hari dimana aku dibawa,
kembali ke bumi?
Apa istimewanya aku?

Jawab!!!!
Aku masih tak mengerti alasannya.

Sekarang....
Tontonan apalagi yang bisa diharapkan dariku saat ini?
Kondisi macam apa ini??
Ini apa ini?

Kembali ku-peroleh,
HIDUP SEGAN
MATI TAK GAMPANG
BUNUH DIRI-PUN TAK BOLEH

Api

Malam ini aku mengenang
diriku...
Lewat Sting dan Queen
juga Kashmir dari Led Zeppeline.
Mengenang api yang pernah menyala begitu nyalang
Membakar hutan
Menjadi arang

Adikku

Adikku
Selamat tidur
Jangan lupa tersenyum
Dan sampaikan salamku
Untuk malaikat di atas sana.

Adikku
Jangan tidur sambil murung
Ibu titip salam untukmu
Dia bilang
Mungkin tidak bisa menabur bunga setiap hari
Tapi pasti disimpan dalam hati
Jangan lupa
Tunggu aku
Buatkan tenda yang bagus untuk kita
Aku akan menemanimu secepatnya
Mungkin sore ini
Kala pelangi sudah tak ada.

Sssssttt....Rahasia....


Tangis sendu mengiringi diriku tuk yang ku rindu
Lepas tanganmu tak melepas harapanku
Tiada kata tuk berpisah
Sedih hati menambah resah


Lamunan hatiku menunggu dirimu
Sayu sembilu………
Tanpamu ku rasa semu
Menunggu yang ku rindu


Harap tuk bertemu,tak mungkin jua tuk bersatu
Segala cinta yang ada,terlarang adanya
Tumbuh cinta dalam cinta
Tersirat hasrat jiwa,hati yang merana

Black Hole Lover

Kekasihku, akulah bintangmu yang jatuh
engkau tersesat seribu tahun cahaya
kubakar sendiri cintaku sampai habis
redup, pun cahayamu menerpa
aku tak lagi
aku runtuh
menjadi monster lubang hitam
kumakan sendiri dengan doa dan harapan
kenangan, kata, puisi, lagu,
mimpi, hasrat, birahi, rindu,
semua lebur tanpa bentuk!!!
tanpa kembali 
ke semesta yang kukenal.

Kekasihku, akulah bintang yang runtuh
aku menjadi monster tanpa rupa
melayang di angkasa misteri-misteri hati
menjadi saksi keajaiban hidup tak terperi
aku menelanmu kalau bisa
sampai hidup menjadi tak bernama
sampai lahir bintang baru
yang bukan siapa-siapa.


Gundah


Aku mengerti,
puisi tidak berbuat apa pun demi cinta
ada saatnya kuingin, 
kau pun merasakan kegundahan ini;
untuk apa maksud baik?

Cinta, elemen hidup yang tak dimiliki
ia menguasai jiwa manusia
seperti aku kini tak pernah tahu
tak sanggup sampai kini, terlepas

Ada saatnya aku ingin berbagi rahasia
sepi ini sungguh naif...ini takdir
kau dan aku disini namun terpisah
untuk apa saling mengenal?

Untunglah di rumah batinku
ruh memberi dan memaafkan

(Dark Room, June 22, 2012)

Rumah Rindu


Bulan dan bintang.
Kami selalu bertegur sapa dalam kesenyapan malam.
Mengakrabi nyinyir angin yang mengganggu kemesraaan kami dengan embusannya.
Kadang ia membisikkan kegelisahan yang memagutku sampai aku menelusup di balik selimut.

Aku tahu,
diriku bukanlah tentang segalanya ketika dia memanggangku dengan sinar matanya
hingga aku mengabu tak bersisa.

Wahai, siapakah pemilik muslihat penuh dusta ini hingga menghilangkan kedirianku,
mengusikku saat mencari kedalaman kelam pada langit malam.

Aku hanya rinai hujan yang tak akan pernah sampai padanya, pada bulan, pada bintang.
Hanya kembali pada bumi.

Tuesday, September 25, 2012

Silet

Dengan silet kusayat biji mata kamu karena kamu
tak gerah memandang kebodohan dan kemiskinan bertumpu.
Padahal keterpurukan dan kehancuran
seperti gadis cantik yang sedang diintai para pemburu.

Dengan silet kusayat otak benak kamu karena kamu
dengan licik mencipta api dan tangan-tangan besi
memasang telinga di seluruh tembok dan dinding rumah kami
lalu diam-diam kamu jerat dan kamu pasung
seluruh hak kami.

Dengan silet kusayat dada dan kantung hati kamu
karena kamu selalu tampil dengan segala atas nama
menjual segala yang kami harap dan suka
lalu demi kedudukan kamu tiup partai jadi surga.

Dengan silet kusayat kedua mulut kamu
karena kamu sering memberanakkan kata-kata tanpa pernikahan
rasa najis dan haram jaddah karenanya
kami selalu tertipu dengan janji-janji kamu

Me....

Kau tahu, aku tahu.....
Kita akan sampai disinii juga
Yang kita tak tahu adalah
Pada jam berapa.
Mungkin terlalu cepat
Ketika matahari belum terik
Waktu pori-pori belum menitik basah
Tapi mungkin kau tak tahu
Aku akan mengenangmu
Pasti mengenangmu.

Puisi Terakhir

Senyum indah kini melemah
Sayap kananku telah patah
Hati meluap penuh nanah
Terlulai jatuh di tanah.

Pernah aku ingin benar padamu
Kita berpeluk ciuman tidak jemu
Berharap hati darimu
Tapi sayang itu dulu.

Pola hidupmu buatku getir
Kesetianku kau sambarkan petir
Anggap saja semua telah jadi pasir
Kepadamu ini puisi terakhir.