Ada kayu dibakar,
langit berbintang,
gunung yang diam,
angin yang malas.
Dan kau yang begitu jauh.
Mungkin aku harus lebih sering mengasing di lereng tebing,
karena kota hanya
mengekalkan jarak,
karena kau hanya bisa
dicintai dalam tiada.
Api di depan tenda semakin redup,
bintang semakin jauh,
gunung makin membisu.
Lalu angin datang pelan
tidak membawa apa pun. Aku hampir menyebut
namamu,
tapi kau
dan aku
tak butuh itu.
Kita hanya perlu diam seperti bintang pada
gunung.
Akhirnya nanti, pada
suatu saat kelak,
tak akan ada yang berdusta. Saat itu datang,
cinta kita mungkin padam,
seperti api di depan tenda
ketika embun turun.
No comments:
Post a Comment