Wednesday, April 25, 2012

MALAM..

Ada kayu dibakar, 

langit berbintang, 

gunung yang diam, 

angin yang malas. 

Dan kau yang begitu jauh. 

Mungkin aku harus lebih sering mengasing di lereng tebing, 
karena kota hanya 
mengekalkan jarak, 
karena kau hanya bisa 
dicintai dalam tiada. 
Api di depan tenda semakin redup, 
bintang semakin jauh, 
gunung makin membisu. 
Lalu angin datang pelan 
tidak membawa apa pun. Aku hampir menyebut 
namamu, 
tapi kau 
dan aku 
tak butuh itu. 
Kita hanya perlu diam seperti bintang pada 
gunung. 
Akhirnya nanti, pada 
suatu saat kelak, 
tak akan ada yang berdusta. Saat itu datang, 
cinta kita mungkin padam, 
seperti api di depan tenda 
ketika embun turun.

No comments:

Post a Comment