Monday, October 1, 2012

Black Hole Lover

Kekasihku, akulah bintangmu yang jatuh
engkau tersesat seribu tahun cahaya
kubakar sendiri cintaku sampai habis
redup, pun cahayamu menerpa
aku tak lagi
aku runtuh
menjadi monster lubang hitam
kumakan sendiri dengan doa dan harapan
kenangan, kata, puisi, lagu,
mimpi, hasrat, birahi, rindu,
semua lebur tanpa bentuk!!!
tanpa kembali 
ke semesta yang kukenal.

Kekasihku, akulah bintang yang runtuh
aku menjadi monster tanpa rupa
melayang di angkasa misteri-misteri hati
menjadi saksi keajaiban hidup tak terperi
aku menelanmu kalau bisa
sampai hidup menjadi tak bernama
sampai lahir bintang baru
yang bukan siapa-siapa.


Gundah


Aku mengerti,
puisi tidak berbuat apa pun demi cinta
ada saatnya kuingin, 
kau pun merasakan kegundahan ini;
untuk apa maksud baik?

Cinta, elemen hidup yang tak dimiliki
ia menguasai jiwa manusia
seperti aku kini tak pernah tahu
tak sanggup sampai kini, terlepas

Ada saatnya aku ingin berbagi rahasia
sepi ini sungguh naif...ini takdir
kau dan aku disini namun terpisah
untuk apa saling mengenal?

Untunglah di rumah batinku
ruh memberi dan memaafkan

(Dark Room, June 22, 2012)

Rumah Rindu


Bulan dan bintang.
Kami selalu bertegur sapa dalam kesenyapan malam.
Mengakrabi nyinyir angin yang mengganggu kemesraaan kami dengan embusannya.
Kadang ia membisikkan kegelisahan yang memagutku sampai aku menelusup di balik selimut.

Aku tahu,
diriku bukanlah tentang segalanya ketika dia memanggangku dengan sinar matanya
hingga aku mengabu tak bersisa.

Wahai, siapakah pemilik muslihat penuh dusta ini hingga menghilangkan kedirianku,
mengusikku saat mencari kedalaman kelam pada langit malam.

Aku hanya rinai hujan yang tak akan pernah sampai padanya, pada bulan, pada bintang.
Hanya kembali pada bumi.

Tuesday, September 25, 2012

Silet

Dengan silet kusayat biji mata kamu karena kamu
tak gerah memandang kebodohan dan kemiskinan bertumpu.
Padahal keterpurukan dan kehancuran
seperti gadis cantik yang sedang diintai para pemburu.

Dengan silet kusayat otak benak kamu karena kamu
dengan licik mencipta api dan tangan-tangan besi
memasang telinga di seluruh tembok dan dinding rumah kami
lalu diam-diam kamu jerat dan kamu pasung
seluruh hak kami.

Dengan silet kusayat dada dan kantung hati kamu
karena kamu selalu tampil dengan segala atas nama
menjual segala yang kami harap dan suka
lalu demi kedudukan kamu tiup partai jadi surga.

Dengan silet kusayat kedua mulut kamu
karena kamu sering memberanakkan kata-kata tanpa pernikahan
rasa najis dan haram jaddah karenanya
kami selalu tertipu dengan janji-janji kamu

Me....

Kau tahu, aku tahu.....
Kita akan sampai disinii juga
Yang kita tak tahu adalah
Pada jam berapa.
Mungkin terlalu cepat
Ketika matahari belum terik
Waktu pori-pori belum menitik basah
Tapi mungkin kau tak tahu
Aku akan mengenangmu
Pasti mengenangmu.

Puisi Terakhir

Senyum indah kini melemah
Sayap kananku telah patah
Hati meluap penuh nanah
Terlulai jatuh di tanah.

Pernah aku ingin benar padamu
Kita berpeluk ciuman tidak jemu
Berharap hati darimu
Tapi sayang itu dulu.

Pola hidupmu buatku getir
Kesetianku kau sambarkan petir
Anggap saja semua telah jadi pasir
Kepadamu ini puisi terakhir.


Monday, September 24, 2012

Senandung Alit Buat Ryan

Telah berulangkali kucoba menepis
Bayang-bayang wajahmu dari mimpiku
Namun senyum di bibirmu telah menggurat
Malam-malamku pedih.


Telah berulangkali kucoba lupakan

Merdu nada suaramu alunkan asmara
Tetapi kata-katamu demikian merasuk
Ke dalam samudera sukma


Telah berulangkali kucoba hapuskan

Namamu dari lembar-lembar kalbu
Namun setiap kutemukan cinta
Hanya tersebut sebuah nama
dari bibirku yang gemetar, namamu.


Sedang dari kembaraku yang panjang

Telah berulangkali kutikamkan
Belati cintaku, hingga tak bisa lagi
Kubedakan rintih tangis keputusasaan
Dan tatap sarat oleh dendam membara
Cinta yang terluka.


Barangkali kita tak harus musnahkan

Potret masa silam betapapun buruknya.
Karena ia telah terlukis
Di setiap dinding hati


Telah kugadaikan seluruh khayalku

Untuk memahami setiap kata cinta
Yang terungkap dari bayang-bayang
Senyummu mengembang-mengacaukan
Detak jantungku.


Telah demikian lama kutunggu

Tetes-tetes embun di kelopak bunga
Yang mampu sejukkan hatiku
Gelisah oleh rindu asmara.


Namun tampaknya sia-sia jua

Karena aku tak pernah mampu memaahami
Getar senyum di bibirmu.


(Sementara tubuh dan jiwaku tetap saja bagai sang Pengelana mengais cinta di setiap persinggahan)

Sunday, September 23, 2012

Anonymous

Even when I was drowned inside the flow of time
when I was trying to run away from my fate
I know for certainty that my soul desires you....

Even my body begin to fade away
when my soul start to shattered into dust
I know for certainty that I still desires you

Even when I was gone I'm sure,
that my desires for you will last forever!

I will always be there,
deep inside you.....

Kangen

Jiwa yang suwung
Kusapu bening iringan gellombangmu
Rapi berkejaran
Menggapai lembut pinggiran pantai.

Kuberdiri, jauh mengembara
Sorot hangat menipu tubuhku
Dari sang bunga lautan
Kau tampakkan wajah budarmu

Hembus semilir bayu
Sampaikan kado rindu untuknya
Agar cerah penantiannya
Secerah hamparan kristal


Senandung Alit Tentang Makna Sebuah Cinta (buat 3 IPA 1)

Adakalanya kita tak paham
Dan bahkan tak akan pernah mengerti
Batas antara makna mencintai dan menyakiti
Sedang keangkuhan hati
Tak mampu mengurai kebodohan kita yang abadi.


Apakah untuk mengukir makna cinta,

mesti menggurat hati dengan belati?


Yan....

Kalau memang masih ada tersisa kenangan masa lalu,
kenapa kita mesti kehilangan?
Sedang ia adalah sebuah dunia
Dimana kita bisa berkaca
Sudah sampai dimanakah kita sekarang?



(Lampung, 1999)