Monday, December 17, 2012

Romance-Voice Letter (Ost. Whispering Corridors 4)



Te quiero aun que yo 
desa paresca si solo tu pue
das ser feliz yo con mis lagrimas
te pueda borrar si puedosi solo tu eres feliz

Por querer mis canciones
yo canto canto porti
por querer mis canciones yo canto canto solo porti

Sunday, December 2, 2012

O Bulan

O bulan yang menyimpan kabut malam
Belitlah sukmaku yang sarat beban
Gelap terkerat, terperangkap mata batin
Belum tua benar aku dalam keriput zaman
Lumat nafsu demi nafsu
Langit belah......terpilah angan kasih
Air hujan malas datang membasah
Aku kering dalam kemarau yang marah
"Engkau dalam genggamanku!"
Tak guna jeritkan kalbu

Jangan lumat perih jiwaku
Hingga tak bersisa siksa dalam makna
Hingga kelu lidahku dalam sekarat
Jangan benamkan benakku dalam setiap harap
Jangan jajakan hatiku pada setiap kata
Hingga mereka banyak menghimpun tanya
"Dimana ada luka, dimana ada duka?"
Aku tertawa
Pada bulan yang menyimpan kabut malam

Saturday, November 3, 2012

Elegi 1

Di laut itu pernah mengalir 
cinta dan kasih kita.
Selalu ingin kukenang,
ribuan cerita yang pernah terukir disana.
Tentang janji, angan, mimpi, dan harapan...
yang pernah kita untai bersama.

Aku hanya ingin kau tahu,
bahwa kini malam adalah deraan,
saat kerinduan mulai meluluhlantakkan kalbuku.
Dan mengenangmu...
Adalah fatamorgana termanis dalam jiwaku.
Namun sungguh, saat bersamamu....
Adalah saat terinndah dalam hidupku.

Saturday, October 13, 2012

Damn Imagination

Terbenam di pelukan Bayu
Alirkan sejuta makna sendu
Bergelung atma tak tentu
Rengkuh aku dibalik kabut biru.

Si merah pun berubah layu
Seruan kirana indah mendayu
Gemulai ulurkan selendang dibalik kelambu
Tak malu
Tak ragu cercaan jadi satu
Untuk apa malu!!
Jika harus kembali ke masa lalu

Potret buram t'lah ditangan sang Bayu
Tak usah hiraukan aku!!!
Terus dendangkan lagu
Dengan petikan gitarmu
Agar aku tak risau selalu

Bayangmu muncul di air wudhuku
Akh...hanya halusinasiku

Mata dibutakan kenangan masa lalu
Nyalang tatap rupamu
Tak jua enyahkan malu
Kecam imaji bertabur kupu-kupu
Sisakan desah bermakna rancu


Saturday, October 6, 2012

Hitam



Berkabung, kematian, kesedihan, dan masih banyak lagi arti dari kata “hitam”. Banyak yang tidak suka dengan warna ini. Ada yang menafsirkan dengan hal-hal yang berbau negatif seperti klenik, angker, misterius, dan sebagainya.

Aku suka hitam, kucingku hitam, rambutku hitam, mataku dan semua yang melekat di ragaku berwarna hitam (termasuk kulit hehehe). Yang paling tidak kusuka dengan hitam adalah julukan yang diberikan teman-teman sekolah untukku. Julukan yang paling menyakitkan buatku adalah Si Gemblong. Kalian pasti tahu apa itu gemblong. Gemblong adalah jajanan pasar yang terbuat dari ketan dan warnanya hitam. Minder dan malu rasanya mendapat julukan tersebut. Rasanya enggan untuk keluar rumah. Tapi akhirnya aku bisa melampaui semuanya sampai saat ini dengan berusaha untuk menjadi yang terbaik diantara mereka yang mencemoohku.

Mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan besar menjadi suatu kebanggaan tersendiri buatku. Lagi-lagi masalah hitam yang mencuat dan semakin menohok perasaan dan harga diriku. Posisi sebagai seorang sekretaris direksi menjadi pertaruhan antara ego dan harga diri. Diharuskan menjadi cantik, berpenampilan menarik, dan berpostur proposional adalah kendala yang sangat pelik buatku (mungkin juga buat kamu). Kamu lihat saja aku, cantik..enggak. Hitam…iya…Huff..diskriminasi warna kulit dan bentuk tubuh ternyata masih ada di negara ini. Akhirnya, resign menjadi pilihan yang terbaik. Apakah menjadi yang terbaik harus diukur dari fisik saja? Masih banyak perusahaan yang membutuhkan skill dan kecerdasan daripada kecantikan fisik.

Hitam juga bisa menyesatkan. Bisa membuat kita hilang arah. Menggapai dalam pekatnya kegelapan dan membutakan mata hati seperti yang terjadi dengan negara kita saat ini. Hasrat, ambisi, prestige, harta, kedudukan, dan kawan-kawannya telah menghitamkan mata mereka. Hmmm..mereka ternyata tak lebih baik daripada tukang pijat tunanetra yang dalam kehitaman masih bisa melihat jalan terang. Bukannya mencari jalan terbaik dan bekerjasama menyelesaikan berbagai masalah, eh malah membuat negara kita menjadi semakin hitam.

Yang paling unik dan yang paling kusuka dengan hitam adalah Komunitas Punk dengan semua atribut Gothic dan hitamnya. Pada awalnya yang ada di benakku hanya kata seram dan aneh. Ingin rasanya jauuuuuhhh dari mereka. Tapi ternyata tidak bisa. Why?...
Cerita ini terjadi pada waktu aku kuliah sekitar tahun 2000-2005, aku mau tidak mau harus lewat di depan mereka (punkers) baik berangkat maupun pulang kuliah. Mereka setiap hari eksis di dekat kampus (karena markas mereka memang ada disitu). Pada suatu hari, aku ambil kelas malam. Tiba-tiba, ada seorang pria tak dikenal langsung menggandeng tanganku. Kaget sekali pada saat itu. Sempat terjadi pertengkaran kecil. Tak dinyana, beberapa anak punk menghampiri kami dan langsung menghardik pria tersebut. Tentu saja pria tersebut lari tunggang langgang. Bahkan yang aku tidak sangka, mereka (punkers) mengantar sampai di depan kosanku. Jadi terharu melihat dan merasakan kebaikan mereka hiks hiks hiks. Sampai aku lulus, mereka selalu menemaniku tanpa imbalan apapun. Untuk itulah, seluruh isi thesisku mengupas habis tentang ‘Gothic’ dan aku dedikasikan untuk mereka. Pada saat aku wisuda, mereka datang. That’s a moment I never forget in my life. Sampai sekarang, kami masih sering kontak lewat jejaring sosial dan juga telepon. I miss you guys…

Ada banyak hitam di sekitar kita. Hitam kan tidak hanya dilihat dari warna saja. Seperti puisiku yang berjudul “Hitam Warnanya” berikut ini:

Hitam kucingku
Bulunya hitam, warna hitam
Bola mata hitam
Hitam jantung
Hitam hati sehitam malam kelam
Mata hitam yang memandang
Lalu….
Dalam malam ia haus warna hitam
Terbayang kucing malam
Dalam bayang membayang
Keanekaragaman
(penuh bayang hitam membayanginya
Oh, malangnya kucingku)

Nah lho, isi dunia ini penuh dengan keanekaragaman yang sangat indah sekali. Hitam itu berkah. Hitam itu anugerah. Menjadi ‘hitam’ jangan kita sesali karena itu adalah pilihan hidup dari Tuhan untuk kita syukuri. Jangan pernah memandang sebelah mata dan bepikir picik dengan “Hitam”. I love everything about BLACK.





Wednesday, October 3, 2012

Berita Duka Daun-Daun


Wajah beku membatu
Menghiasi kesedihan alam
Daun-daun tak lagi melambai ketika disapa angin
Ia gugur sebelum menguning
Sebelum tubuhnya kering
Merana tanpa ratapan
Sengsara tanpa isakan
Daun-daun diam seperti dibungkam.

Hujan yang dulu karib dengannya
Kini malah mengguyur tanpa rasa iba
Bahkan menyeret beberapa tanah
Dan daun-daun itupun terkubur

Pupus sudah harapan daun-daun
Ia telah gugur, ia telah terkubur
Ketika pagi tiba
Betapa terkejutnya sang Mentari
Karena daun-daun itu
Tak lagi menyambutnya.

Monday, October 1, 2012

Mentari Yang Hampir Mati


Sometimes I feel like I don't have a partner.

Sometimes I feel my only friend is the city I live in.The city of angel (RHCP)

Terkadang kesendirian merupakan sesuatu yg begitu indah.
Tatkala senja melihat camar pulang ke peraduan.
Ketika insan khusuk menikmati malam tanpa bintang.
Saat masa merobek benang khayal yg telah terpasang.

Menyapa mentari yg hampir mati.
Menghela napas yg tercekat.
Kala sinar harapan harus terkubur sunyi.
Sendiri....
I do never a beggar of uncertainty.
I do never wish for your generous sight.
But please take or look deeper in my bottom heart.
There're too many hope quarreling.
Just for your nice little pinky smile.

Menyusun pecahan sukma berserak.
Berdiri di sebelah kaki berpijak.
Menari beriring lagu sepi.
Mengharap secercah sinar nurani.
Mentari yang hampir mati.

Curang

Oiiii....
Jangan bilang gak denger
Gak mungkinlah kalo gak denger.

Ini apa ini?
Kondisi macam apa ini??
Tontonan apalagi yang bisa diharapkan dariku saat ini?
Iya, saat-saat ini!

Bukannya tak terhitung,
aksiku berakhir mengecewakan?
Masih percaya padaku?
Aku ragu jikalau itu aku

Sudah habis asaku, 
hatiku, dayaku, akalku.
Tetapi masih saja.....
Apa istimewanya aku?

Ingat hari itu?
Hari dimana aku dibawa,
kembali ke bumi?
Apa istimewanya aku?

Jawab!!!!
Aku masih tak mengerti alasannya.

Sekarang....
Tontonan apalagi yang bisa diharapkan dariku saat ini?
Kondisi macam apa ini??
Ini apa ini?

Kembali ku-peroleh,
HIDUP SEGAN
MATI TAK GAMPANG
BUNUH DIRI-PUN TAK BOLEH

Api

Malam ini aku mengenang
diriku...
Lewat Sting dan Queen
juga Kashmir dari Led Zeppeline.
Mengenang api yang pernah menyala begitu nyalang
Membakar hutan
Menjadi arang

Adikku

Adikku
Selamat tidur
Jangan lupa tersenyum
Dan sampaikan salamku
Untuk malaikat di atas sana.

Adikku
Jangan tidur sambil murung
Ibu titip salam untukmu
Dia bilang
Mungkin tidak bisa menabur bunga setiap hari
Tapi pasti disimpan dalam hati
Jangan lupa
Tunggu aku
Buatkan tenda yang bagus untuk kita
Aku akan menemanimu secepatnya
Mungkin sore ini
Kala pelangi sudah tak ada.

Sssssttt....Rahasia....


Tangis sendu mengiringi diriku tuk yang ku rindu
Lepas tanganmu tak melepas harapanku
Tiada kata tuk berpisah
Sedih hati menambah resah


Lamunan hatiku menunggu dirimu
Sayu sembilu………
Tanpamu ku rasa semu
Menunggu yang ku rindu


Harap tuk bertemu,tak mungkin jua tuk bersatu
Segala cinta yang ada,terlarang adanya
Tumbuh cinta dalam cinta
Tersirat hasrat jiwa,hati yang merana

Black Hole Lover

Kekasihku, akulah bintangmu yang jatuh
engkau tersesat seribu tahun cahaya
kubakar sendiri cintaku sampai habis
redup, pun cahayamu menerpa
aku tak lagi
aku runtuh
menjadi monster lubang hitam
kumakan sendiri dengan doa dan harapan
kenangan, kata, puisi, lagu,
mimpi, hasrat, birahi, rindu,
semua lebur tanpa bentuk!!!
tanpa kembali 
ke semesta yang kukenal.

Kekasihku, akulah bintang yang runtuh
aku menjadi monster tanpa rupa
melayang di angkasa misteri-misteri hati
menjadi saksi keajaiban hidup tak terperi
aku menelanmu kalau bisa
sampai hidup menjadi tak bernama
sampai lahir bintang baru
yang bukan siapa-siapa.


Gundah


Aku mengerti,
puisi tidak berbuat apa pun demi cinta
ada saatnya kuingin, 
kau pun merasakan kegundahan ini;
untuk apa maksud baik?

Cinta, elemen hidup yang tak dimiliki
ia menguasai jiwa manusia
seperti aku kini tak pernah tahu
tak sanggup sampai kini, terlepas

Ada saatnya aku ingin berbagi rahasia
sepi ini sungguh naif...ini takdir
kau dan aku disini namun terpisah
untuk apa saling mengenal?

Untunglah di rumah batinku
ruh memberi dan memaafkan

(Dark Room, June 22, 2012)

Rumah Rindu


Bulan dan bintang.
Kami selalu bertegur sapa dalam kesenyapan malam.
Mengakrabi nyinyir angin yang mengganggu kemesraaan kami dengan embusannya.
Kadang ia membisikkan kegelisahan yang memagutku sampai aku menelusup di balik selimut.

Aku tahu,
diriku bukanlah tentang segalanya ketika dia memanggangku dengan sinar matanya
hingga aku mengabu tak bersisa.

Wahai, siapakah pemilik muslihat penuh dusta ini hingga menghilangkan kedirianku,
mengusikku saat mencari kedalaman kelam pada langit malam.

Aku hanya rinai hujan yang tak akan pernah sampai padanya, pada bulan, pada bintang.
Hanya kembali pada bumi.

Tuesday, September 25, 2012

Silet

Dengan silet kusayat biji mata kamu karena kamu
tak gerah memandang kebodohan dan kemiskinan bertumpu.
Padahal keterpurukan dan kehancuran
seperti gadis cantik yang sedang diintai para pemburu.

Dengan silet kusayat otak benak kamu karena kamu
dengan licik mencipta api dan tangan-tangan besi
memasang telinga di seluruh tembok dan dinding rumah kami
lalu diam-diam kamu jerat dan kamu pasung
seluruh hak kami.

Dengan silet kusayat dada dan kantung hati kamu
karena kamu selalu tampil dengan segala atas nama
menjual segala yang kami harap dan suka
lalu demi kedudukan kamu tiup partai jadi surga.

Dengan silet kusayat kedua mulut kamu
karena kamu sering memberanakkan kata-kata tanpa pernikahan
rasa najis dan haram jaddah karenanya
kami selalu tertipu dengan janji-janji kamu

Me....

Kau tahu, aku tahu.....
Kita akan sampai disinii juga
Yang kita tak tahu adalah
Pada jam berapa.
Mungkin terlalu cepat
Ketika matahari belum terik
Waktu pori-pori belum menitik basah
Tapi mungkin kau tak tahu
Aku akan mengenangmu
Pasti mengenangmu.

Puisi Terakhir

Senyum indah kini melemah
Sayap kananku telah patah
Hati meluap penuh nanah
Terlulai jatuh di tanah.

Pernah aku ingin benar padamu
Kita berpeluk ciuman tidak jemu
Berharap hati darimu
Tapi sayang itu dulu.

Pola hidupmu buatku getir
Kesetianku kau sambarkan petir
Anggap saja semua telah jadi pasir
Kepadamu ini puisi terakhir.


Monday, September 24, 2012

Senandung Alit Buat Ryan

Telah berulangkali kucoba menepis
Bayang-bayang wajahmu dari mimpiku
Namun senyum di bibirmu telah menggurat
Malam-malamku pedih.


Telah berulangkali kucoba lupakan

Merdu nada suaramu alunkan asmara
Tetapi kata-katamu demikian merasuk
Ke dalam samudera sukma


Telah berulangkali kucoba hapuskan

Namamu dari lembar-lembar kalbu
Namun setiap kutemukan cinta
Hanya tersebut sebuah nama
dari bibirku yang gemetar, namamu.


Sedang dari kembaraku yang panjang

Telah berulangkali kutikamkan
Belati cintaku, hingga tak bisa lagi
Kubedakan rintih tangis keputusasaan
Dan tatap sarat oleh dendam membara
Cinta yang terluka.


Barangkali kita tak harus musnahkan

Potret masa silam betapapun buruknya.
Karena ia telah terlukis
Di setiap dinding hati


Telah kugadaikan seluruh khayalku

Untuk memahami setiap kata cinta
Yang terungkap dari bayang-bayang
Senyummu mengembang-mengacaukan
Detak jantungku.


Telah demikian lama kutunggu

Tetes-tetes embun di kelopak bunga
Yang mampu sejukkan hatiku
Gelisah oleh rindu asmara.


Namun tampaknya sia-sia jua

Karena aku tak pernah mampu memaahami
Getar senyum di bibirmu.


(Sementara tubuh dan jiwaku tetap saja bagai sang Pengelana mengais cinta di setiap persinggahan)

Sunday, September 23, 2012

Anonymous

Even when I was drowned inside the flow of time
when I was trying to run away from my fate
I know for certainty that my soul desires you....

Even my body begin to fade away
when my soul start to shattered into dust
I know for certainty that I still desires you

Even when I was gone I'm sure,
that my desires for you will last forever!

I will always be there,
deep inside you.....

Kangen

Jiwa yang suwung
Kusapu bening iringan gellombangmu
Rapi berkejaran
Menggapai lembut pinggiran pantai.

Kuberdiri, jauh mengembara
Sorot hangat menipu tubuhku
Dari sang bunga lautan
Kau tampakkan wajah budarmu

Hembus semilir bayu
Sampaikan kado rindu untuknya
Agar cerah penantiannya
Secerah hamparan kristal


Senandung Alit Tentang Makna Sebuah Cinta (buat 3 IPA 1)

Adakalanya kita tak paham
Dan bahkan tak akan pernah mengerti
Batas antara makna mencintai dan menyakiti
Sedang keangkuhan hati
Tak mampu mengurai kebodohan kita yang abadi.


Apakah untuk mengukir makna cinta,

mesti menggurat hati dengan belati?


Yan....

Kalau memang masih ada tersisa kenangan masa lalu,
kenapa kita mesti kehilangan?
Sedang ia adalah sebuah dunia
Dimana kita bisa berkaca
Sudah sampai dimanakah kita sekarang?



(Lampung, 1999)

Thursday, September 20, 2012

Suara Ruang


Irama menggema memenuhi ruang
Berlatar mendesah
Kadang-kadang menjerit lantang
Senandung mengalun mendayu-dayu
Ketika aku terkenang pada-Mu

Monday, September 17, 2012

Syukur Bunga


Sekuntum mawar,
Mekar di pagar,
Tertegun memandang ke luar,
Lalu lalang orang bermata nanar.
          
Hari berat ditapakinya,
Terik dan hujan ditempuhnya,
Sesuap nasi, sekerat lauk,
Berpuluh tahun runduk berbungkuk.

Bukan salah manusia berpayah,
Hidup mereka panjang rentangnya,
Hanya harta dan kuasa,
Yang menanggung kehadirannya.

Bersimbah peluh, harta di tera
Bersimbah tunduk, kuasa dicinta
Raga melemah, tidak dirasa
Nurani nyeri, apalah daya.

Bahagia aku, senyum mawar berseri
Hidupku hanya berbilang hari
Aku kuncup, mekar lalu mati
Begitu mudahnya kujalani

Bahagia aku ini, si mawar lega
Hidup dan kembang tiada derita
Hanya cinta dan puja yang kudamba
Lalu gugur, harumku tersisa.

Dua Sahabat, Di Depan Tungku Perapian (Kepada: A.J)


Dua sahabat: aku dan kamu
Memandang langit yang gelap
Barangkali kita sedang menyambut gerimis
Dan kabut yang bakal datang.
Kita berdua telah lama tidak saling bertemu
Siapakah kamu?
Burung gagak telah memberi isyarat
Pada usiaku, dan juga kau
Barangkali benar katamu: kita harus tersenyum
Disaat seseorang menyiapkan katil
Dan air kembang di halaman rumah.
Tak perlu takut katamu. Aku setuju.
Seperti yang pernah kita katakan
di depan tungku perapian saat berkemah di kaki gunung,
lima tahun lalu.
Barangkali engkau masih ingat, ketika kita diskusi,
tentang kacang tanah, kedelai, ubi, dan roh puisi yang liar.
Tak ada persahabatan yang abadi, katamu.
Dan kau adalah ujung pisau,
barangkali aku sendiri adalah roh
yang mabuk dan mencari perlindungan
dari perangkap-perangkap.
Kita berdua seperti api.