Monday, September 17, 2012

Dua Sahabat, Di Depan Tungku Perapian (Kepada: A.J)


Dua sahabat: aku dan kamu
Memandang langit yang gelap
Barangkali kita sedang menyambut gerimis
Dan kabut yang bakal datang.
Kita berdua telah lama tidak saling bertemu
Siapakah kamu?
Burung gagak telah memberi isyarat
Pada usiaku, dan juga kau
Barangkali benar katamu: kita harus tersenyum
Disaat seseorang menyiapkan katil
Dan air kembang di halaman rumah.
Tak perlu takut katamu. Aku setuju.
Seperti yang pernah kita katakan
di depan tungku perapian saat berkemah di kaki gunung,
lima tahun lalu.
Barangkali engkau masih ingat, ketika kita diskusi,
tentang kacang tanah, kedelai, ubi, dan roh puisi yang liar.
Tak ada persahabatan yang abadi, katamu.
Dan kau adalah ujung pisau,
barangkali aku sendiri adalah roh
yang mabuk dan mencari perlindungan
dari perangkap-perangkap.
Kita berdua seperti api.

No comments:

Post a Comment