Dua
sahabat: aku dan kamu
Memandang
langit yang gelap
Barangkali
kita sedang menyambut gerimis
Dan
kabut yang bakal datang.
Kita
berdua telah lama tidak saling bertemu
Siapakah
kamu?
Burung
gagak telah memberi isyarat
Pada
usiaku, dan juga kau
Barangkali
benar katamu: kita harus tersenyum
Disaat
seseorang menyiapkan katil
Dan
air kembang di halaman rumah.
Tak
perlu takut katamu. Aku setuju.
Seperti
yang pernah kita katakan
di
depan tungku perapian saat berkemah di kaki gunung,
lima
tahun lalu.
Barangkali
engkau masih ingat, ketika kita diskusi,
tentang
kacang tanah, kedelai, ubi, dan roh puisi yang liar.
Tak
ada persahabatan yang abadi, katamu.
Dan
kau adalah ujung pisau,
barangkali
aku sendiri adalah roh
yang
mabuk dan mencari perlindungan
dari
perangkap-perangkap.
Kita
berdua seperti api.
No comments:
Post a Comment