Tuesday, September 25, 2012

Silet

Dengan silet kusayat biji mata kamu karena kamu
tak gerah memandang kebodohan dan kemiskinan bertumpu.
Padahal keterpurukan dan kehancuran
seperti gadis cantik yang sedang diintai para pemburu.

Dengan silet kusayat otak benak kamu karena kamu
dengan licik mencipta api dan tangan-tangan besi
memasang telinga di seluruh tembok dan dinding rumah kami
lalu diam-diam kamu jerat dan kamu pasung
seluruh hak kami.

Dengan silet kusayat dada dan kantung hati kamu
karena kamu selalu tampil dengan segala atas nama
menjual segala yang kami harap dan suka
lalu demi kedudukan kamu tiup partai jadi surga.

Dengan silet kusayat kedua mulut kamu
karena kamu sering memberanakkan kata-kata tanpa pernikahan
rasa najis dan haram jaddah karenanya
kami selalu tertipu dengan janji-janji kamu

Me....

Kau tahu, aku tahu.....
Kita akan sampai disinii juga
Yang kita tak tahu adalah
Pada jam berapa.
Mungkin terlalu cepat
Ketika matahari belum terik
Waktu pori-pori belum menitik basah
Tapi mungkin kau tak tahu
Aku akan mengenangmu
Pasti mengenangmu.

Puisi Terakhir

Senyum indah kini melemah
Sayap kananku telah patah
Hati meluap penuh nanah
Terlulai jatuh di tanah.

Pernah aku ingin benar padamu
Kita berpeluk ciuman tidak jemu
Berharap hati darimu
Tapi sayang itu dulu.

Pola hidupmu buatku getir
Kesetianku kau sambarkan petir
Anggap saja semua telah jadi pasir
Kepadamu ini puisi terakhir.


Monday, September 24, 2012

Senandung Alit Buat Ryan

Telah berulangkali kucoba menepis
Bayang-bayang wajahmu dari mimpiku
Namun senyum di bibirmu telah menggurat
Malam-malamku pedih.


Telah berulangkali kucoba lupakan

Merdu nada suaramu alunkan asmara
Tetapi kata-katamu demikian merasuk
Ke dalam samudera sukma


Telah berulangkali kucoba hapuskan

Namamu dari lembar-lembar kalbu
Namun setiap kutemukan cinta
Hanya tersebut sebuah nama
dari bibirku yang gemetar, namamu.


Sedang dari kembaraku yang panjang

Telah berulangkali kutikamkan
Belati cintaku, hingga tak bisa lagi
Kubedakan rintih tangis keputusasaan
Dan tatap sarat oleh dendam membara
Cinta yang terluka.


Barangkali kita tak harus musnahkan

Potret masa silam betapapun buruknya.
Karena ia telah terlukis
Di setiap dinding hati


Telah kugadaikan seluruh khayalku

Untuk memahami setiap kata cinta
Yang terungkap dari bayang-bayang
Senyummu mengembang-mengacaukan
Detak jantungku.


Telah demikian lama kutunggu

Tetes-tetes embun di kelopak bunga
Yang mampu sejukkan hatiku
Gelisah oleh rindu asmara.


Namun tampaknya sia-sia jua

Karena aku tak pernah mampu memaahami
Getar senyum di bibirmu.


(Sementara tubuh dan jiwaku tetap saja bagai sang Pengelana mengais cinta di setiap persinggahan)

Sunday, September 23, 2012

Anonymous

Even when I was drowned inside the flow of time
when I was trying to run away from my fate
I know for certainty that my soul desires you....

Even my body begin to fade away
when my soul start to shattered into dust
I know for certainty that I still desires you

Even when I was gone I'm sure,
that my desires for you will last forever!

I will always be there,
deep inside you.....

Kangen

Jiwa yang suwung
Kusapu bening iringan gellombangmu
Rapi berkejaran
Menggapai lembut pinggiran pantai.

Kuberdiri, jauh mengembara
Sorot hangat menipu tubuhku
Dari sang bunga lautan
Kau tampakkan wajah budarmu

Hembus semilir bayu
Sampaikan kado rindu untuknya
Agar cerah penantiannya
Secerah hamparan kristal


Senandung Alit Tentang Makna Sebuah Cinta (buat 3 IPA 1)

Adakalanya kita tak paham
Dan bahkan tak akan pernah mengerti
Batas antara makna mencintai dan menyakiti
Sedang keangkuhan hati
Tak mampu mengurai kebodohan kita yang abadi.


Apakah untuk mengukir makna cinta,

mesti menggurat hati dengan belati?


Yan....

Kalau memang masih ada tersisa kenangan masa lalu,
kenapa kita mesti kehilangan?
Sedang ia adalah sebuah dunia
Dimana kita bisa berkaca
Sudah sampai dimanakah kita sekarang?



(Lampung, 1999)

Thursday, September 20, 2012

Suara Ruang


Irama menggema memenuhi ruang
Berlatar mendesah
Kadang-kadang menjerit lantang
Senandung mengalun mendayu-dayu
Ketika aku terkenang pada-Mu

Monday, September 17, 2012

Syukur Bunga


Sekuntum mawar,
Mekar di pagar,
Tertegun memandang ke luar,
Lalu lalang orang bermata nanar.
          
Hari berat ditapakinya,
Terik dan hujan ditempuhnya,
Sesuap nasi, sekerat lauk,
Berpuluh tahun runduk berbungkuk.

Bukan salah manusia berpayah,
Hidup mereka panjang rentangnya,
Hanya harta dan kuasa,
Yang menanggung kehadirannya.

Bersimbah peluh, harta di tera
Bersimbah tunduk, kuasa dicinta
Raga melemah, tidak dirasa
Nurani nyeri, apalah daya.

Bahagia aku, senyum mawar berseri
Hidupku hanya berbilang hari
Aku kuncup, mekar lalu mati
Begitu mudahnya kujalani

Bahagia aku ini, si mawar lega
Hidup dan kembang tiada derita
Hanya cinta dan puja yang kudamba
Lalu gugur, harumku tersisa.

Dua Sahabat, Di Depan Tungku Perapian (Kepada: A.J)


Dua sahabat: aku dan kamu
Memandang langit yang gelap
Barangkali kita sedang menyambut gerimis
Dan kabut yang bakal datang.
Kita berdua telah lama tidak saling bertemu
Siapakah kamu?
Burung gagak telah memberi isyarat
Pada usiaku, dan juga kau
Barangkali benar katamu: kita harus tersenyum
Disaat seseorang menyiapkan katil
Dan air kembang di halaman rumah.
Tak perlu takut katamu. Aku setuju.
Seperti yang pernah kita katakan
di depan tungku perapian saat berkemah di kaki gunung,
lima tahun lalu.
Barangkali engkau masih ingat, ketika kita diskusi,
tentang kacang tanah, kedelai, ubi, dan roh puisi yang liar.
Tak ada persahabatan yang abadi, katamu.
Dan kau adalah ujung pisau,
barangkali aku sendiri adalah roh
yang mabuk dan mencari perlindungan
dari perangkap-perangkap.
Kita berdua seperti api.

Gerimis Waktu Subuh


Sisa hujan semalam belum reda
Kabut menyelimuti semua pemandanganku
Tanah lembab, daun-daun menggigil
Angin masih tetap seperti semula
Membawa kabar yang tak pasti

Penantian ini memang panjang
Kesabaran adalah jalan yang melelahkan
Kapan rintik hujan ini berhenti?
Kapan mentari tiba?

(DPR Tekno Lampung, Februari 2004)

Sunday, September 16, 2012

Terminal


Yang kau maksud terminal
Adalah senja
Beranjak malam
Melanglang seribu gelap

Yang kau maksud terminal
Adalah singgahnya          
Sebuah hati pada hatimu
Yang segera kau tepi
Karena hati berhati
Telah ada di belakangmu

Walaupun samar bak senja
Terminal itu adalah kau

(Lampung, 17 Juli 2000)

BUNDA


Menatapmu Bunda…
Ku baca siratan cinta dan pengorbanan tak terkira
Memelukmu Bunda….
Ku rasa hangat dan damai dalam jiwa.

Menyentuhmu Bunda…
Tersengatku oleh kesucian tak tercela
Mencintaimu Bunda…
Berkahku hidup hingga ke surga

Sejuk senyummu…
Walau letih dan sejuta duka terlintas di mata
Teduh tatapanmu…
Meski hati rapuh dan luluh lantak

Mencium kakimu Bunda…
Terbiusku akan nyawa yang kau perjuangkan
Menyakitimu Bunda…
Yakin ku takkan sanggup melakukannya.

(15 Desember 2005)

AYAH


Takkan ada waktu yang sampai
Untuk membiusmu jatuh lalai
Hatimu selalu menyuara
Dalam pilu, dalam teriakan
Berjuang mengartikan semua makna

          Walau bertemankan sepi,
          Diammu menerawang keheningannya
          Dengan kata yang banyak bunyi
          Yang terus menerus meronta
          Wajahmu mencari-cari segala cahaya
          Disudut-sudut lingkaran bumi

Ayah…
Hanya satu yang kau lupa
Rupa senyumku di waktu bayi

(September 2006)