Dengan silet kusayat biji mata kamu karena kamu
tak gerah memandang kebodohan dan kemiskinan bertumpu.
Padahal keterpurukan dan kehancuran
seperti gadis cantik yang sedang diintai para pemburu.
Dengan silet kusayat otak benak kamu karena kamu
dengan licik mencipta api dan tangan-tangan besi
memasang telinga di seluruh tembok dan dinding rumah kami
lalu diam-diam kamu jerat dan kamu pasung
seluruh hak kami.
Dengan silet kusayat dada dan kantung hati kamu
karena kamu selalu tampil dengan segala atas nama
menjual segala yang kami harap dan suka
lalu demi kedudukan kamu tiup partai jadi surga.
Dengan silet kusayat kedua mulut kamu
karena kamu sering memberanakkan kata-kata tanpa pernikahan
rasa najis dan haram jaddah karenanya
kami selalu tertipu dengan janji-janji kamu
Ini adalah blog penulis lepas....seperti saya!!!...I just let out something black on my mind.
Tuesday, September 25, 2012
Me....
Kau tahu, aku tahu.....
Kita akan sampai disinii juga
Yang kita tak tahu adalah
Pada jam berapa.
Mungkin terlalu cepat
Ketika matahari belum terik
Waktu pori-pori belum menitik basah
Tapi mungkin kau tak tahu
Aku akan mengenangmu
Pasti mengenangmu.
Puisi Terakhir
Senyum indah kini melemah
Sayap kananku telah patah
Hati meluap penuh nanah
Terlulai jatuh di tanah.
Pernah aku ingin benar padamu
Kita berpeluk ciuman tidak jemu
Berharap hati darimu
Tapi sayang itu dulu.
Pola hidupmu buatku getir
Kesetianku kau sambarkan petir
Anggap saja semua telah jadi pasir
Kepadamu ini puisi terakhir.
Monday, September 24, 2012
Senandung Alit Buat Ryan
Telah berulangkali kucoba menepis
Bayang-bayang wajahmu dari mimpiku
Namun senyum di bibirmu telah menggurat
Malam-malamku pedih.
Telah berulangkali kucoba lupakan
Merdu nada suaramu alunkan asmara
Tetapi kata-katamu demikian merasuk
Ke dalam samudera sukma
Telah berulangkali kucoba hapuskan
Namamu dari lembar-lembar kalbu
Namun setiap kutemukan cinta
Hanya tersebut sebuah nama
dari bibirku yang gemetar, namamu.
Sedang dari kembaraku yang panjang
Telah berulangkali kutikamkan
Belati cintaku, hingga tak bisa lagi
Kubedakan rintih tangis keputusasaan
Dan tatap sarat oleh dendam membara
Cinta yang terluka.
Barangkali kita tak harus musnahkan
Potret masa silam betapapun buruknya.
Karena ia telah terlukis
Di setiap dinding hati
Telah kugadaikan seluruh khayalku
Untuk memahami setiap kata cinta
Yang terungkap dari bayang-bayang
Senyummu mengembang-mengacaukan
Detak jantungku.
Telah demikian lama kutunggu
Tetes-tetes embun di kelopak bunga
Yang mampu sejukkan hatiku
Gelisah oleh rindu asmara.
Namun tampaknya sia-sia jua
Karena aku tak pernah mampu memaahami
Getar senyum di bibirmu.
Sunday, September 23, 2012
Anonymous
Even when I was drowned inside the flow of time
when I was trying to run away from my fate
I know for certainty that my soul desires you....
Even my body begin to fade away
when my soul start to shattered into dust
I know for certainty that I still desires you
Even when I was gone I'm sure,
that my desires for you will last forever!
I will always be there,
deep inside you.....
Kangen
Jiwa yang suwung
Kusapu bening iringan gellombangmu
Rapi berkejaran
Menggapai lembut pinggiran pantai.
Kuberdiri, jauh mengembara
Sorot hangat menipu tubuhku
Dari sang bunga lautan
Kau tampakkan wajah budarmu
Hembus semilir bayu
Sampaikan kado rindu untuknya
Agar cerah penantiannya
Secerah hamparan kristal
Senandung Alit Tentang Makna Sebuah Cinta (buat 3 IPA 1)
Adakalanya kita tak paham
Dan bahkan tak akan pernah mengerti
Batas antara makna mencintai dan menyakiti
Sedang keangkuhan hati
Tak mampu mengurai kebodohan kita yang abadi.
Apakah untuk mengukir makna cinta,
mesti menggurat hati dengan belati?
Yan....
Kalau memang masih ada tersisa kenangan masa lalu,
kenapa kita mesti kehilangan?
Sedang ia adalah sebuah dunia
Dimana kita bisa berkaca
Sudah sampai dimanakah kita sekarang?
(Lampung, 1999)
Thursday, September 20, 2012
Suara Ruang
Irama
menggema memenuhi ruang
Berlatar
mendesah
Kadang-kadang
menjerit lantang
Senandung
mengalun mendayu-dayu
Ketika
aku terkenang pada-Mu
Monday, September 17, 2012
Syukur Bunga
Mekar
di pagar,
Tertegun
memandang ke luar,
Lalu
lalang orang bermata nanar.
Hari berat ditapakinya,
Terik dan hujan ditempuhnya,
Sesuap nasi, sekerat lauk,
Berpuluh tahun runduk berbungkuk.
Bukan
salah manusia berpayah,
Hidup
mereka panjang rentangnya,
Hanya
harta dan kuasa,
Yang
menanggung kehadirannya.
Bersimbah peluh, harta di tera
Bersimbah tunduk, kuasa dicinta
Raga melemah, tidak dirasa
Nurani nyeri, apalah daya.
Bahagia
aku, senyum mawar berseri
Hidupku
hanya berbilang hari
Aku
kuncup, mekar lalu mati
Begitu
mudahnya kujalani
Bahagia aku ini, si mawar lega
Hidup dan kembang tiada derita
Hanya cinta dan puja yang kudamba
Lalu gugur, harumku tersisa.
Dua Sahabat, Di Depan Tungku Perapian (Kepada: A.J)
Dua
sahabat: aku dan kamu
Memandang
langit yang gelap
Barangkali
kita sedang menyambut gerimis
Dan
kabut yang bakal datang.
Kita
berdua telah lama tidak saling bertemu
Siapakah
kamu?
Burung
gagak telah memberi isyarat
Pada
usiaku, dan juga kau
Barangkali
benar katamu: kita harus tersenyum
Disaat
seseorang menyiapkan katil
Dan
air kembang di halaman rumah.
Tak
perlu takut katamu. Aku setuju.
Seperti
yang pernah kita katakan
di
depan tungku perapian saat berkemah di kaki gunung,
lima
tahun lalu.
Barangkali
engkau masih ingat, ketika kita diskusi,
tentang
kacang tanah, kedelai, ubi, dan roh puisi yang liar.
Tak
ada persahabatan yang abadi, katamu.
Dan
kau adalah ujung pisau,
barangkali
aku sendiri adalah roh
yang
mabuk dan mencari perlindungan
dari
perangkap-perangkap.
Kita
berdua seperti api.
Gerimis Waktu Subuh
Sisa
hujan semalam belum reda
Kabut
menyelimuti semua pemandanganku
Tanah
lembab, daun-daun menggigil
Angin
masih tetap seperti semula
Membawa
kabar yang tak pasti
Penantian ini memang panjang
Kesabaran adalah jalan yang melelahkan
Kapan rintik hujan ini berhenti?
Kapan mentari tiba?
(DPR
Tekno Lampung, Februari 2004)
Sunday, September 16, 2012
Terminal
Yang
kau maksud terminal
Adalah
senja
Beranjak
malam
Melanglang
seribu gelap
Yang kau maksud terminal
Adalah singgahnya
Sebuah hati pada hatimu
Yang segera kau tepi
Karena hati berhati
Telah ada di belakangmu
Walaupun
samar bak senja
Terminal
itu adalah kau
(Lampung,
17 Juli 2000)
BUNDA
Menatapmu
Bunda…
Ku
baca siratan cinta dan pengorbanan tak terkira
Memelukmu
Bunda….
Ku
rasa hangat dan damai dalam jiwa.
Menyentuhmu
Bunda…
Tersengatku
oleh kesucian tak tercela
Mencintaimu
Bunda…
Berkahku
hidup hingga ke surga
Sejuk
senyummu…
Walau
letih dan sejuta duka terlintas di mata
Teduh
tatapanmu…
Meski
hati rapuh dan luluh lantak
Mencium
kakimu Bunda…
Terbiusku
akan nyawa yang kau perjuangkan
Menyakitimu
Bunda…
Yakin
ku takkan sanggup melakukannya.
(15
Desember 2005)
AYAH
Takkan
ada waktu yang sampai
Untuk
membiusmu jatuh lalai
Hatimu
selalu menyuara
Dalam
pilu, dalam teriakan
Berjuang
mengartikan semua makna
Walau bertemankan sepi,
Diammu menerawang keheningannya
Dengan kata yang banyak bunyi
Yang terus menerus meronta
Wajahmu mencari-cari segala cahaya
Disudut-sudut lingkaran bumi
Ayah…
Hanya
satu yang kau lupa
Rupa
senyumku di waktu bayi
(September
2006)
Subscribe to:
Comments (Atom)

.jpg)

.jpg)




.jpg)