Sunday, September 16, 2012

AYAH


Takkan ada waktu yang sampai
Untuk membiusmu jatuh lalai
Hatimu selalu menyuara
Dalam pilu, dalam teriakan
Berjuang mengartikan semua makna

          Walau bertemankan sepi,
          Diammu menerawang keheningannya
          Dengan kata yang banyak bunyi
          Yang terus menerus meronta
          Wajahmu mencari-cari segala cahaya
          Disudut-sudut lingkaran bumi

Ayah…
Hanya satu yang kau lupa
Rupa senyumku di waktu bayi

(September 2006)

1 comment:

  1. sentimentale, but I love it.
    mewakili sebagian dari diri saya (yg kadang terlalu angkuh untuk mengakuinya).
    :)
    :)
    :)

    jangan patah arang untuk terus menulis walau belum/tidak ada yg berkomentar.

    salam,
    Fajaryanto Suhardi

    ReplyDelete